|
Ditulis oleh Blitarian
|
|
Friday, 20 June 2008 |
|
Blitar, begitu orang mendengar nama kota Blitar, mungkin bisa dipastikan akan tergiring ke profil Bung Karno atau Gunung Kelud dengan kedahsyatan letusannya, atau bahkan akan teringat peristiwa Blitar Selatan dengan penghancuran sisa-sisa pengikut PKI. Selain itu mungkin akan mengarah pada pecel, makanan khas warga Blitar, meski sekarang sudah banyak makanan alternatif lainnya yang dikonsumsi, namun keberadaan pabrik sambal pecel di Jl. Cemara lingkungan Karangsari Blitar, menambah dominasi pecel sebagai produk unggulan warga Blitar, terlebih pabrik tersebut kabarnya juga telah go internasional.
Ngomong-ngomong soal makanan atau kuliner, bagi masyarakat Blitar ada beberapa tempat buat marung ( makan di warung ) yang sampai saat masih diminati, bahkan bisa dikatakan melegenda seantero Blitar dan sekitarnya. tempat itu diantaranya adalah Warung Bu Martumi, spesialis sayur tewel nan pedes. Beralamat di Desa Dayu Kec. Nglegok, tepatnya utara pasar dayu kurang lebih 150 meter dari pasar. Di depan rumah atau warung Bu Martumi terdapat nameboard yang cukup jelas bertuliskan 'Warung Bu Martumi, sedia Nasi Sayur Tewel, Rebung, Ayam, Dll', memudahkan bagi pe-marung pemula untuk mencari lokasinya. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh Blitarian
|
|
Friday, 13 June 2008 |
|
Kali ini PSBK atau Laskar PETA, kesebelasan kebanggaan warga kota Blitar mengadakan pertandingan persahabatan dengan kesebelasan ternama dari Suarabaya, PERSEBAYA. PSBK memakai kostum warna hitam dengan kombinasi merah, sementara pasukan Bajul Ijo, persebaya, seperti biasanya memakai kostum dengan dominasi warna hijau.
Persebaya komplit dengan pasukan intinya, cuman min bonex-nya. Ikut dalam permainan tersebut diantara nama-nama yang sudah tidak asing lagi bagi kita, Bejo Sugiantoro, Anang Ma'ruf, I Putu Gede serta ada salah satu permain asli dari Blitar dengan nomor punggung 25, yakni Purwanto. PSBK dengan full team seperti biasanya, mencoba menjamu persebaya dengan sebaik-baiknya.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh Blitarian
|
|
Wednesday, 11 June 2008 |
|
Mungkin sudah banyak yang mendengar bahwasanya jalan aspal jalur Blitar-Tulungagung atau tepatnya jalan yang membatasi antara Desa Plososarang dan Desa Tuliskriyo di utara jembatan Kademangan, sering memakan korban jiwa ketika terjadi kecelakaan lalu lintas. Dilihat dari struktur jalan yang memang tergolong sempit, ditambah dengan adanya DAM yang cukup curam di sebelah timur jalan itu. Yang kemudian masih banyak rimbunan pohon bambu di sepanjang pinggir DAM itu, menambah keangkeran jalan tersebut.
Belum lagi sudah menjadi rahasia umum warga sekitar jalan tersebut, apabila akan terjadi kecelakaan di jalan itu, malam harinya ada sebagian warga yang mendengar suara bayi menangis. Bila bukan suara bayi, kadang warga melihat sebuah bus berhenti yang seakan-akan menurunkan penumpang. Namun setelah bus tersebut melanjutkan perjalanan, ternyata tidak ada seorang pun yang turun dari bus, padahal bus juga terlihat membuka pintunya tanda seseorang turun. Kini jalan itu dalam proses pelebaran oleh dinas terkait, di mulai dari gapura masuk ke Kota Blitar sampai tikungan selatan Kantor Desa Plososarang. Sehingga beberapa kios liar di sebelah barat bahu jalan itu tergusur habis, demi keaman pengguna jalan tersebut.
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Selanjutnya > Akhir >>
|
| Results 183 - 189 of 212 |