BLITAR KUTHO TJILIK KANG KAWENTAR

Blitarian Info

Blitarian segala sesuatu yang berhubungan dengan Blitar, akan segera tersaji dihadapan anda untuk lebih mencintai Blitar apa adanya. Details...

Ide sederhana untuk menuangkan segala potensi yang dimiliki Blitar kedalam wacana publik internasional melalui internet merupakan wujud kepedulian kami sebagai manusia yang terlahir di tanah Blitar. Details...

Download NFSP!

Blitar Kutho tjilik kang kawentar, Blitar merupakan kota kecil di wilayah propinsi Jawa Timur yang sudah tersohor di kancah nasional bahkan internasional.  Banyak tokoh-tokoh besar lahir di Blitar, adalah tugas kita sebagai wong Blitar untuk terus mengenang jasa-jasa beliau  dengan terus berkarya mengisi Blitar dengan pembangunan manusia seutuhnya. Details...

Partner

artmedia.jpg

Pengunjung kami

Belum ada yang Online

Total



Adsense Indonesia

Depan
Fenomena Munculnya Supriyadi PETA Blitar PDF Print E-mail
Ditulis oleh cokrobumi   
Sunday, 02 November 2008

ImageSebagai bocah yang lahir di Blitar yang kemudian membaca sejarah dari buku-buku di sekolah tentang Pahlawan PETA Blitar yakni Soeprijadi yang mana dalam buku-buku tersebut hanya dijelaskan secara garis besarnya saja bahwa pemimpin pemberontakan PETA di Blitar adalah Shodancho Soeprijadi dengan ending sang pemimpin pemberontakan menghilang entah kemana raibnya. Namun beliau tetaplah pahlawan besar yang mengukir sejarah dalam proses kemerdekaan Indonesia.

Berikutnya setelah 63 tahun  sejak meletusnya peristiwa pemberontakan itu pada tanggal 14 Pebruari 1945, Romo Baskoro Tulus Wardaya, Direktur Pusat Sejarah dan Etika Politik Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, mengetengahkan sebuah Buku yang berisi wawancara dengan seseorang yang mengaku pemimpin Pemberontakan PETA di Blitar yaitu Eyang Andaryoko Wisnu Prabu.
 

Karuan saja warga Blitar terkejut, penasaran campur curiga, benarkah Eyang Andaryoko yang lahir di Salatiga Jawatengah itu Sang Shodancho pahlawan pemberani itu? Karena selama ini yang warga Blitar tahu adalah Shodancho Soeprijadi dilahirkan di Trenggalek Jawa Timur pada tanggal 13 April 1923 dengan nama kecil Priambodo, dari seorang Bapak bernama Raden Darmadi dan Ibu Raden Roro Rahayu. Karena sakit setelah melahirkan adik Priambodo yaitu Widajat, sang ibu meninggal. Selanjutnya Raden Darmadi menikah lagi dengan Roro Soesilih dan dikaruniai 11 anak.

Sementara itu, Romo Baskoro dalam mengiringi bukunya yang telah menjadi best seller secara lesan dan tulisan diberbagai media, beliau menekankan bahwa soal apakah benar Andaryoko itu Shodancho Soeprijadi  atau bukan hal itu tidaklah merupakan fokus dari buku tersebut. Fokusnya lebih pada pemberian ruang bagi salah satu pelaku sejarah untuk menuturkan kembali pengalaman dan pendapatnya berkaitan dengan sejarah Indonesia. Tentu saja tuturan itu harus ditanggapi dengan sikap kritis dan rendah hati.

Melalui buku tersebut, Romo Baskoro mengajak para pembaca bukan untuk menghakimi apakah Andaryoko itu Soeprijadi atau bukan namun mengajak seluruh pembacanya untuk bersama-sama melakukan pertimbangan, pemikiran dan pencarian berkaitan dengan sejarah Indonesia, itulah sebabnya buku tersebut di beri judul MENCARI SUPRIYADI.

Disisi lain, ketika di Blitar diselenggarakan acara Bedah Buku hasil karya Romo Baskoro yang mana pada acara tersebut hadir pula Eyang Andaryoko, warga Blitar cenderung mencari kebenaran terhadap keberadaan Eyang Andaryoko itu Soeprijadi asli atau bukan. Sehingga konteks untuk diskusi dan membahas berbagai kemungkinan seperti yang diharapkan Romo Baskoro menjadi mentah. Tidak ada point satu pun yang didapat kecuali hadirin bisa bertatap muka langsung dengan Eyang Andaryoko.

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, itulah pesan Bung Karno. Bagi pemerhati sejarah khususnya yang menyangkut Blitar, kehadiran wacana baru perihal Soeprijadi tentunya patut dijadikan acuan lagi untuk meluruskan sejarah sebagaimana mestinya. Masalahnya siapa lagi yang masih peduli dengan sejarah, kalaupun ada yang peduli seberapa besar kapasitasnya untuk menentukan bahwa cerita sejarah yang itu benar dan yang ini salah. Apakah akan dibiarkan begitu saja narasi alternatif yang telah disodorkan pertama kali oleh Romo Baskoro itu? Pintu telah dibuka oleh Romo Baskoro, tinggal bagaimana orang-orang masuk ke ruang itu apakah dengan bijak serta berpikir cerdas menelaah seluruh ruangan, atau justru dengan arogan menutup pintu dan membakar seluruh ruangan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya!

 

Komentar
Tambah komentar baru
Beri Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
 
Mohon untuk memasukkan kode diatas pada kotak yang telah tersedia sebelum anda kirim.

3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >

Login

Polling

Apa yang paling anda inginkan ?
 

Pesan Singkat

Latest Message: 4 days, 23 hours ago
  • [GUEST]Saleho : Foto tokoh blitar
  • [GUEST]Saleho : Fhoto tokoh blitar
  • [GUEST]admin : pelayanan perpus yg mana mbak? banyak sih.. hiks!
  • [GUEST]cipta : hotcall 085739356469
  • [GUEST]cipta : fs : «email»
  • [GUEST]cipta : pliese ye
  • [GUEST]cipta : gmana ni?/bsa bntu kan?
  • [GUEST]cipta : hai teman, bisa minta bntuan g? qu dpt tgas akhir dari kampus buat bikin laporan tntang pelayanan di pelpus bung karno
  • [GUEST]joeva : akhir na blitar punyak situs juga...wakakakaaa...lanjuutt terus bos pantang munduurrr..
  • romeobust : maju terus wong blitar menuju teknologi dunia maya....!!!
© 2008 blitarian