Tamune
Ada 3 tamu online
Anggotane
Belum ada yang Online
|
|
Lakpesdam Blitar prakarsai seminar pendidikan politik |
|
|
|
|
Ditulis oleh Blitarian
|
|
Saturday, 27 June 2009 |
 Seminar dengan tema Pendidikan Politik Dalam Upaya Meneguhkan Identitas Kebangsaan yang diselenggarakan oleh LAKPESDAM NU Blitar menghadirkan 3 nara sumber yakni Bapak. DR. Sholih Mu'adi, Sh dan Bapak Prof.Dr.MA,Drs. Imam Malik Masyuri serta Mas Ahmad Qisyai alumnus Perguruan tinggi di India yang kesemuanya adalah asli wong Blitar. Ditengah lesunya minat masyarakat terhadap berbagai hal yang berbau politik praktis, penyelenggaraan seminar yang diprakarsai konco-konco lakpesdam tersebut ternyata cukup menarik minat berbagai komunitas atau organisasi kepemudaan di blitar lainnya.
Seminar diadakan di lesehan SANIA depan Hotel Herlingga. Dibuka mulai sekitar pukul 09.00 wib oleh Wabub Blitar Arif fuadi yang didampingi pak Agus Purnomo dari Departemen Dalam Negeri. Usai memberikan rangkaian kata-kata sehubungan denga seminar beliaunya meninggalkan tempat, kemudian seminar yang berisi dialog interaktif antara nara sumber dan sekitar 100 lebih peserta, segera dimulai.
Sebagaimana tema dialog yang diusung konco-konco Lakpesdam, pak Sholih Mu'adi yang sehari-harinya sebagainya Dosen FH Undar Jombang dan pasca Sarjana pada UNISMA Malang, mencoba mengetengahkan beberapa pandangan beliau terhadap kondisi real budaya politik di negeri ini bahkan sempat menguraikan beberapa contoh adat dan budaya para politikus yang masih jauh dari budaya bangsa sebagaimana harapan semua.
Sementara pak Malik Masyhuri, mengajak peserta seminar untuk lebih mendalami tentang sejarah perpolitikan bangsa ini dengan harapan nantinya akan dapat memutuskan langkah konkrit sebagaimana sikap pemuda pada negerinya disaat budaya politik bangsa ini masih mencari bentuk yang sesuai.
Sedangkan Mas Ahmad Qisyai, mencoba berbagi pengalamannya saat-saat di India, khususnya mencermati pola demokrasi di sana. Dengan harapan, pengalaman darinya dapat dijadikan salah satu referensi dalam memandang serta memahami dunia politik.
Sesi dialog berjalan cukup seru, mengingat hadirin dari berbagai komunitas pemuda maka pertanyaan-pertanyaan pun cukup beragam. Memang tidak ada kesimpulan dari akhir seminar tersebut, setidaknya berbagi pandangan dan gagasan bidang politik dapat membantu konco-konco blitar dalam mengapresiasikan politik tanpa menghalalkan segala cara.
Garis besarnya, mungkin perlu diakui bahwa memang BELUM ada elit politik yang berani pasang badan untuk menjadi TAULADAN dan Partai politik masih menjadi lahan pekerjaan bukan sarana guna mencapai tujuan besar bangsa Indonesia.
|
|
|
|