SOEGENG RAWOEH WONTEN ING BLITAR KUTHO TJILIK KANG KAWENTAR

Properti Blitarian

Barang dan Jasa
gogreen.jpg

Tamune

Ada 10 tamu online

Anggotane

Belum ada yang Online

Total


Syndicate

Depan
Apakabar Mbah PETA Blitar ? IV PDF Print E-mail
Ditulis oleh Blitarian   
Thursday, 13 August 2009

Slamet DjamoesSlamet Djamoes, lahir di Blitar tahun 1926. Kemudian masuk tentara PETA pada tahun 1943, berarti menjadi tentara pada usia 17 tahun. Sebagai pasukan PETA Blitar, beliau dibawah komando Sodancho Suhud, dan selama latihan sebagai tentara, beliau berpindah-pindah sesuai instruksi dari Jepang. 4 bulan di Kesamben, 4 bulan di pantai Jolosutro, kemudian 4 bulan di Semen Krisik. Selama latihan, pasukan PETA diperintah sekaligus mengawasi para romusha yang tidak lain adalah rakyat Indonesia. Mbah Djamoes melihat dengan mata kepala sendiri betapa beratnya menjadi seorang romusha, selain kelaparan dan mendapat siksa dari tentara Jepang, penyakit malaria juga menyerang para romusha. Banyak mayat bergelimpangan di area kerja paksa membuat parit-parit pertahanan Jepang tersebut.

 

Saat meletus pemberontakan PETA yang dipimpin Sodancho Soeprijadi, mbah Djamus kemudian bersama pletonnya menuju asrama PETA di Blitar. Saat itu, asrama menurut Mbah Djamoes sudah kacau, penuh suara senjata ditembakkan.

Selanjutnya, Mbah Djamus bersama pletonnya yang terdiri 8 orang berjalan ke arah barat, sampai di perempatan Togogan Srengat Blitar. Mbah Djamoes adalah pasukan pembawa senjata Watermantle, yang pada umumnya di bawa oleh 4 orang. Namun kondisi darurat, entah kekuatan darimana ternyata mbah Djamoes mampu membawa senjata itu sendirian sampai Togogan Srengat. Padahal jaraknya dari asrama di Blitar kurang lebih 14 Km.

Mbah Djamoes masih bersama 8 temannya terus menyusuri jalan melewati daerah ponggok, menuju Blitar dengan sembunyi-sembunyi. Sampai terdengar kabar bahwa ada perintah untuk kembali ke asrama dari Sodancho Moeradi yang telah berunding dengan tentara Jepang. Sebagai pasukan harus tunduk kepada perintah komandan, maka mbah Djamoes beserta teman-temannya menuju ke asrama.

Ternyata sesampainya di asrama, senjata seluruh pasukan PETA dilucuti, kemudian diperiksa secara seksama oleh Jepang, senjata yang pernah ditembakkan ada sebanyak 68 buah. Masing-masing penangung jawab terhadap senjata tersebut ditangkap kemudian diadili bahkan sampai dihukum mati.

Mbah Djamoes sangat beruntung, saat berada di Togogan tidak jadi menembakkan Watermantle padahal saat itu katanya beliau sudah siap menembakkan senjata ke arah kapal Jepang, namun niatnya diurungkan setelah mendapat masukan dari teman-temannya. Tapi tetap saja, mbah Djamoes harus merasakan penjara di lereng Gunung Wilis bersama yang lainnya.

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, Mbah Djamoes bergabung dengan pasukan Untung Suropati di Surabaya kemudian tahun 1953 pindah tugas di Bumi Ayu, Jawa Tengah. Tahun 1955 mendapat tugas ke Makasar menumpas pemberontakan DI/TII ( Negara Islam Indonesia) bersama pasukan Untung Suropati. Tahun 1956-1957 ditgaskan ke Malili, Palopo. Kemudian pada tahun 1958-1959 di tugaskan ke Sumatera menghentikan gerakan PRRI ( Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia ). Tahun 1960 ditugaskan ke Manado dan tahun 1962 ke Toli-toli. Pada tahun 1964-1965 Mbah Djamoes kembali ditugaskan ke Masakasar guna menumpas pemberontakan Abdul Kahar Muzakar.

mbah DjamoesTerakhir, Mbah Djamoes bertugas di Korem 804 Surabaya sampai masa pensiunnya tahun 1969. Sejak itu Mbah Djamoes pulang ke Blitar kerumah orang tuanya yang berada di Jl. Prambanan 43 Blitar. Baru tahun 1997 beliau mendapat uang pensiun, itu pun harus mengeluarkan banyak uang agar namanya terdapat pada daftar penerima uang pensiun. Sampai sekarang tahun 2009 ini, mbah Djamoes belum memiliki rumah sendiri, beliau menempati rumah orang tuanya dahulu yang sangat sederhana bersama anaknya.

Ada setumpuk piagam dan lencana yang diberikan pada Mbah Djamoes, salah satunya terdapat tanda tangan Bung Karno, yaitu pada piagam Tanda Jasa pahlawan pada tahun 1958. Berikutnya banyak lencana dari menteri pertahanan Republik Indonesia. Tahun 1997 beliau juga mendapat lencana sebagai Cikal Bakal TNI dari Prersiden Soeharto.

Itulah Mbah Slamet Djamoes, diusia senjanya masih saja terlihat kedisiplinannya. Meski kadang dilarang oleh anaknya, namun mbah Djamoes nekad naik sepeda onthel ketika mendapat undangan dari pemerintah untuk suatu acara.

Bila disekolah kita diajarkan untuk selalu menghargai jasa para pahlawan yang telah gugur dimedan pertempuran, lalu apa yang bisa kita lakukan untuk pejuang sehebat Mbah Djamoes dan lain-lainnya yang masih 'sugeng' ?
 
Komentar
Tambah komentar baru
Beri Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
 
Mohon untuk memasukkan kode diatas pada kotak yang telah tersedia sebelum anda kirim.

3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >

Login

Polling

Apa yang paling anda inginkan ?
 

Pesan Singkat

Latest Message: 19 hours, 30 minutes ago
  • putrapeta : salam kenal dari aku, fuad, tuk semua Blitarian....
  • lailatul kiptiyah : salam kenal kepada semuanya...slamat menyambut Idul Fitri 1431 H..Mohon maaf lahir dan batin..Taqoballallohu Minna Waminkum Wataqobal Ya Karim..
  • lailatul kiptiyah : Assalamu'alaikukumWr. Wb.
  • Ajicell12 : Ampuni aku ya Tuhan atas segala kesalahanku-..ameen
  • Ajicell12 : Puasaku uwis bodol iki piye
  • rena : hi semua, salam kenal ya
  • macfamous : nice blitarian «link»
  • krisna : Assalamualaikum
  • admine : salam kenal juga Mas.. suwun!
  • akences : halo salam kenal
Please Login to shout..
© 2008 blitarian