Menengok pelaku seni, khususnya seni Kuda Lumping, atau Jaran Kepang dan orang Blitar sering menyebutnya
Jaranan, kemarin kami berkunjung ke Kelurahan Blitar yang mana di kelurahan tersebut terdapat pengrajin sekaligus pelaku seni Jaranan.
Secara umum, di Blitar banyak terdapat paguyuban-paguyuban kesenian Jaranan. Termasuk di kelurahan Blitar yang kami kunjungi bernama "GUYUBING BUDOYO" yang di koordinir oleh Pak Nur Ali.

Menurut Pak Nur Ali, saat ini memang peminat atau pencinta seni jaranan turun drastis. Seiring banyaknya budaya asing yang telah berkembang subur di Blitar, paguyuban yang dia koordinir semakin sepi peminatnya. Belum lagi masalah ekonomi yang mau tidak mau banyak anggota paguyubannya memilih untuk fokus pada ekonomi masing-masing, karena bila hanya bertumpu pada pagelaran seni Jaranan, tidak akan mampu membiayai kebutuhan hidup. Klop sudah, pelaku seni dan peminat seni jaranan benar-benar mulai berkurang.
"Sebenarnya kami bukan pelestari seni Jaranan, namun hanya sebagai pelaku seni. Yang melestarikan seni Jaranan ya para
penanggap Jaranan", kata Pak Nur Ali. Sehingga semakin surut warga Blitar yang menanggap Jaranan, maka paguyuban seni Jaranan seperti yang dikoordinir Pak Nur Ali tersebut akan bubar dengan sendirinya.
Pak Nur Ali juga menyayangkan soal hak paten beberapa kesenian Indonesia yang diklaim Malaysia, tapi kenyataannya memang orang Indonesia sudah tidak begitu peduli dalam melestarikannya. Khususnya seni yang seperti dia kelola, sekarang benar-benar terhimpit oleh budaya asing, dan semakin ditinggalkan.
Pak Nur Ali, sejak tahun 1975 sudah berkecimpung dan terjun langsung sebagai pelaku seni Jaranan. Tahun 1986, dia dipercaya sebagai salah satu pengurus paguyuban seni "Guyubing Budoyo" Kelurahan Blitar. Dulunya Pak Nur Ali juga sering sebagai tukang Barong, dan saat ini beliau sebagai pemukul alat musik Jaranan. Bahkan Pak Nur Ali mampu membuat Barongan sendiri dari kayu Cangkring. Kadang ada orang yang pesan barongan padanya, harga barongan saat ini sekitar RP. 650.000,-
Demikian juga Pak Lamidi, tetangga Pak Nur Ali, selain sebagai pelaku seni jaranan, beliau merupakan pengrajin Jaran Kepang atau Kuda Lumping. Jaran artinya kuda, kepang adalah anyaman bambu. Harga Jaran Kepang bikinan Pak Lamidi sekitar Rp. 250.000,-.
Untuk sebuah pagelaran jaranan, kata Pak Nur Ali, paguyubannya menarik biaya Rp. 1.500.000,- uang tersebut untuk seluruh keluarga paguyuban yang anggotanya sekitar 100 orang. Pada prinsipnya, menurut Pak Nur Ali, ada orang yang mau menanggap seni jaranan saja beliau dan teman-teman pelaku seni jaranan sudah cukup senang.