|
Baku hantam dan jual beli pukulan benar-benar terjadi antara laskar singolodro dengan laskar Minakjinggo Probolinggo. Dari awal memang nampak kerasnya permainan kedua belah pihak. Beberapa pertandingan tandang PSBI kesemuanya didera kekalahan, belum lagi permasalahan intern tentang status pelatih Laskar Singolodro yang beberapa hari sebelumnya dinonaktifkan, jelas saja pada pertandingan di stadion Soeprijadi Kota Blitar sore tadi pasukan PSBI tanpa didampingi sang pelatih. Sementara laskar Singolodro mencoba memanfaatkan posisi sebagai tuan rumah untuk meraih point penuh membuat mereka penuh semangat untuk menggempur Laskar Minakjinggo secara habis-habisan.
Perjuangan laskar singolodro tidak sia-sia, dua gol cantik hasil kerjasama yang apik mampu dipersembahkan Berta dan Ucok Aripin, dan hasil 2-0 untuk PSBI bertahan sampai usainya pertandingan lanjutan devisi utama tersebut.
Pada babak pertama, kedua belah pasukan bermain cukup taktis, beberapa kali peluang tercipta oleh masing-masing kesebelasan. PSBI tanpa pemain asingnya, ternyata terlihat lebih kompak, sehingga Ucok yang meskipun bertubuh lebih mungil dengan brilian mampu mengecoh 3 pemain belakang Persipro, kemudian bola disodorkan dimuka gawang Persipro dan pada saat yang tepat Berta tanpa kawalan musuh melesakkan bola tersebut ke gawang Persipro, 1-0 untuk PSBI.
Pada Babak kedua, pertandingan sangat keras cenderung kasar. Bahkan sempat terjadi aksi protes ke wasit oleh pemain-pemain Persipro yang dikapteni Putu Gede mantan pemain nasional. Dan Wasit pun dibuat kalang kabut karena aksi protes mereka diselingi dorongan bahkan perobekan baju wasit. Terpaksa wasit harus ke ruang ganti guna mengambil baju. Sungguh memprihatinkan!
Aksi Protes yang berlebihan itu terjadi setelah Ucok Arifin dengan skil individunya mampu menjebol gawang Persipro. Pada Babak II tersebut PSBI menurunkan Lenglolo pemain asingnya, meski PSBI menang dan meraih point penuh, namun selama ini banyak supporter yang merasa bahwa kehadiran Lenglolo belum menunjukkan kelasnya sebagai pemain mahal. Lenglolo sering kali kehilangan bola, dan salah oper bola serta nampak malas, kurang greget, sampai-sampai banyak penonton nyeletuk, Larang-larang tuku tiba'e gur koyo ngono!
Mendekati akhir babak kedua, permainan semakin keras. Pemain belakang Persipro harus berjibaku sampai ikut menyerang untuk membalas gol. Sampai akhirnya terjadi keributan dan saling pukul tatkala pemain Persipro melanggar pemain belakang PSBI, secara kasat mata memang nampak jelas saat mereka berebut bola tangan pemain persipro juga bergerak dengan sengaja memukul kepala pamain belakang PSBI, karena tidak terima, pemain belakang PSBI langsung membalas dengan pukulan, dan adu jotos tidak terelakkan lagi. Untungnya pertandingan masih dapat dilanjutkan sampai waktu permainan babak ke dua berakhir.
Aksi lempar botol minuman oleh penonton menambah ruwetnya pertandingan. Maki-makian ke arah wasit tetap mengalun dengan kerasnya. Sampai kapan hal itu bisa dihentikan? Apakah memang sudah tidak bisa diperbaiki lagi, minimal tidak melempar botol minuman ke lapangan pertandingan. Karena lama-lama aksi itu mencerminkan image supporter PSBI Blitar. Tidak ada salahnya bagi kita yang mencintai PSBI untuk introspeksi, sebelum hukuman dari komdis benar-benar dijatuhkan untuk Laskar Singolodro. Kecuali memang semua harus tahu dulu bagaimana rasanya dapat hukuman. Bravo PSBI...
|