Selain Makam Bung Karno serta beberapa candi peninggalan leluhur, di Blitar juga terdapat banyak pantai. Hanya saja pantai-pantai di Blitar tergolong kecil. Namun demikian keberadaan pantai-pantai tersebut tidak kalah cantik dengan pantai-pantai terkenal di seluruh Indonesia. Dari beberapa pantai yang ada, masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda pula. Terutama pasir pantai yang beraneka ragam, ada yang berpasir putih, pasir hitam (besi), serta pasir biasa. Sayang belum semua pantai yang ada di blitar dapat diekspos sedemikian rupa sehingga mampu menambah potensi sumber pendapatan daerah.
Dari sekian pantai yang ada, kami mencoba mengintip Pantai Pasur yang berada di barat Pantai Tambakrejo yang sudah lebih dulu terkenal. Pantai Pasur berada diwilayah Desa Bululawang kecamatan Bakung Blitar Selatan, kurang lebih 45 Km dari Kota Blitar. Pantai Pasur berpasir hitam (besi) dan cukup luas. Selain sebagai muara sebuah sungai yang cukup panjang, dibagian timur terdapat batu-batu karang yang cukup menarik dan indah untuk dinikmati sebagai pemandangan alam.

Sehubungan dengan kandungan besi pada pasir pantai yang cukup tinggi, jangan heran bila ada aktifitas penggalian pasir besi berikut prosesi pembesiannya dengan alat-alat berat. Tentu agak mengganggu keindahan pantai. Lain daripada itu, mungkin saat ini, keberadaan pantai Pasur lebih mendatangkan manfaat sebagai tempat penambangan pasir besi dari pada sebagai obyek wisata seperti Pantai Tambakrejo atau Pantai Serang dan lainnya. Setidaknya Pantai Pasur benar-benar mendatangkan manfaat bagi dunia industri atau usaha masyarakat setempat.

Sekilas pada pasir pantai terdapat tanaman cemara laut yang cukup bagus dan nampak sehat disana, meski cuman 2 batang pohon. Bila serius melestarikan pantai pasur untuk dijadikan tempat wisata pengembangan pohon-pohon tadi sangat memungkin untuk mempercantik wajah pantai. Sementara tebing-tebing pantai masih kehilatan cukup hijau, berbeda dengan pantai Pudhak atau Pantai Sherit di timur Pantai Tambakrejo. Sebagian besar pantai-pantai di timur pantai tambakrejo kondisinya cukup panas mengingat hampir sama sekali tidak ada pohon besar yang tumbuh karena habis ditebang beberapa tahun yang lalu.

Pantai Pasur memang belum memenuhi tempat yang nyaman untuk dijadikan obyek wisata, selain terdapat penambangan pasir dalam skala cukup besar, juga karena kondisi pantai yang masih kotor oleh ranting-ranting pohon terdampar dispanjang pantai. Nampak sekali rusuh, padahal ombak dan pemandangan laut cukup indah, tidak kalah dengan pantai serang dan tambakrejo. Belum lagi disana masih terlihat kepakan sayap-sayap burung laut yang sesekali nampak melintas di atas pantai.
Lokasi Pantai Pasur bila ditempuh dari Kota Blitar tidaklah sesulit pantai Pudhak atau Sherit. Jalan aspal sudah 80% hotmix sampai Pantai, artinya perjalanan menuju Pantai Pasur sudah demikian mudah, apalagi hampir sepanjang pinggir jalan menuju pantai terdapat pohon-pohon yang cukup rindang untuk melindungi dari sengatan sinar matahari.
Masalahnya untuk sampai pantai Pasur, harus banyak bertanya kepada warga sekitar, mengingat tidak ada petunjuk arah pantai disepanjang jalan menuju pantai. Dan publikasi keberadaan Pantai Pasur kayaknya memang belum ada sama sekali. Tidak heran bila sebagian besar penduduk Blitar sendiri belum tahu atau belum pernah berkunjung ke Pantai Pasur, apalagi para wisatawan dari luar daerah. Itu masih satu pantai, bagaimana dengan pantai-pantai lainnya disepanjang pantai wilayah Kabupaten Blitar?
Memang semua memerlukan proses dan biaya yang tidak sedikit untuk membuat pantai-pantai di Blitar layak dikunjungi sebagaimana para wisatawan yang datang ke Blitar yang sampai saat ini masih terhipnotis keagungan Bung Karno. Bila semua wong Blitar ikut menggembar-gemborkan diringi perawatan dan atau rehabilitasi pantai-pantai di Blitar tidak menutup kemungkinan di Blitar akan banyak alternatip obyek wisata selain makam Bung Karno dan Perpus Bung karno.
Minimal untuk siswa-siswi level SLTP diharuskan tahu dan juga diupayakan mengunjungi pantai di Blitar, karena kelak secara tidak langsung merekalah duta-duta wisata Blitar. Sayang kenyataannya banyak sekolah di Blitar yang justru menggiring siswa-siswinya studi tour ke pantai luar daerah. Memang itu adalah hak dari pihak sekolah, tapi tidak ada salahnya bila sesekali mereka diperkenalkan dengan pantai-pantai di tempat tinggal mereka sendiri, dengan begitu keberadaan pantai akan tersebar secara tutur tinular. Tapi sama juga bohong bila pihak yang berkompeten dibidang wisata Blitar hanya diam masa bodo.

Dengan menambah obyek wisata serta upaya publikasi yang tepat guna, maka kunjungan wisatawan-wisatawan baik lokal maupun luar daerah, akan sangat menunjang terciptanya lapangan pekerjaan dengan segala kreasi masing-masing. Itu pun bila mampu mencerna potensi yang ada, kalau tidak maka blitar akan tetap sebagai salah satu kota pemasok tenaga kerja ke luar negeri. Mungkin itulah alur dari serangkaian penelaahan sederhana kami setelah mengintip dan menikmati beberapa pantai di wialayah Blitar.